Kecil Kecil Cabe Kongo

Urusan perut memang ngga bisa dianggap remeh. Awalnya, aku sepele dengan urusan ganjal perut ini. Berbagai saran dari teman – teman di Indonesia dibiarkan berlalu begitu saja. Masuk telinga kiri dan keluar lagi dari telinga kiri, alias membal. Nasihat mereka seputar perbekalan selalu kutanggapi dengan ogah – ogahan. Alasannya, dengan gaya sok pengalaman aku selalu berkata, “Aku kan sudah terbiasa bekerja di wilayah remote. Yang selalu sulit untuk urusan makanan. Biasanya survive kok. Malahan, bagus juga kalo makanannya ngga cocok. Itung – itung jadi obat diet gratis,”

Halaah. Sungguh arogan kedengarannya. Emang sudah pernah kemana aja? Paling – paling wilayah paling remote yang pernah aku datangi hanyalah pulau Nias dan kepulauan kecil di sekitarnya. Sesusah – susahnya makanan, tetap aja masih bisa nemu nasi, sayur – sayuran segar, serta segala jenis ikan dan bumbu dapur. Dalam keadaan paling susah sekalipun, tuh makanan masih tetap bisa masuk, meluncur dengan sukses dari kerongkongan menuju lambung, berdiam disana sebagai cadangan energi untuk segala jenis aktivitas. At least, tuh makanan masih bisa diterima lidah.

Dengan segala kesoktahuan, berangkatlah aku ke Kinshasa, tanpa membawa perbekalan makanan yang memadai. Aku lebih berniat mengisi koperku dengan pakaian ketimbang makanan. Kalau makanan, pasti ada dimana – mana. Tapi pakaian? Dengan ukuran yang ekstra large? Belum tentu ada. Mungkin sih masih ada, mengingat ukuran orang – orang Afrika juga gede – gede. Tapi, yang jadi masalah adalah, cocok ngga pakaian – pakaian gede itu ketika aku pakai? Bisa jadi malah terlalu besar (sok kurus. hahaha).

Selain pakaian, tentu saja, perlengkapan perawatan wajah dan tubuh. Maklum, perempuan. Sebelumnya interview singkat dulu dengan Sari sebelum berangkat.

Aku : Shampo XXXX ada ngga Sari?

Sari : Ada.. Tapi muahaaalll banget… Satu botol kecilnya bisa sembilan puluh ribuan kalo dirupiahkan. (Ok.. Aku bawa tiga botol deh).

Aku : Segala jenis perawatan muka ada ngga?

Sari : Kalo P…s ada kok.

Aku : Ngga pake P…s Sari. Pakenya L….l

Sari : Wah. Kurang tau karena ngga pake itu. Tapi belum pernah liat.

Gawat. Berarti ngga ada. Kalo gitu, bawa lima pembersih muka. Tiga botol krim malam dan penahan ultra violet. Afrika kan panas, banyak debu. Segala perlengkapan perawatan muka harus lengkap, kalo ngga mau si jerawat – jerawat nakal bertengger dengan manis di muka yang semakin hari sudah menjadi semakin suram.

Perasaan paranoid tidak bisa mendapatkan apa yang kubutuhkan membuatku kalap. Aku mengisi koperku dengan barang – barang tetek bengek lainnya, yang sebenarnya bukan kebutuhan dasar. Tripod, pasti harus dibawa. Satu set novel Harry Potter hampir saja dibawa, sebelum aku menemukan versi PDFnya. Timbangan badan juga nyaris dibawa sampai Aeni, seorang sahabat di Jakarta berteriak nyaring, “Timbangan badan? Serius Lo? Ini timbangan beratnya tiga kilo”.

Tiba di Kinsaha. Kuserahkan sebotol kecap dan sambel ABC sebagai oleh – oleh buat Sari yang disambut dengan kebahagiaan tiada tara. Ih.. Sari, ngga usah norak gitu dong. Apa hebatnya kecap ABC, banyak dijual, pikirku. Ok Nurul. Banyak dijual. Kalau di indonesia. Kau akan mendapatkannya dengan mudah, bahkan hingga di pelosok negeri. Tapi disini? Sampai menangis pun tak bakalan dapat juga. Minggu pertama, masih belum ada masalah dengan makanan. Dengan kecap ABC, Sari dan Kak Luna masih bisa membuat masakan – masakan khas Indonesia, seperti semur ayam. Namun, setelah seminggu berlalu, semur ayam itu tak pernah muncul lagi.

“Sari. Kok kita ngga pernah masak ayam kecap lagi?”

“Kecap pemberianmu sudah tamat riwayatnya Nurul. Sekarang harus berpuas diri dengan masakan yang itu – itu saja,”

Selamat ber survive ria Nurul.

Selama di Kongo, aku dan teman – teman terbiasa untuk memasak. Alasannya hanya satu. Jelas – jelas penghematan. Tak ada yang rela mengeluarkan 10-15 dollar hanya untuk satu piring makanan yang rasanya jelas tak cocok di lidah. Meskipun di hari Sabtu atau Minggu, aku dan teman – teman akan memanjakan diri, mencicipi makanan – makanan lezat di restoran Lebanon, yang terletak di ujung jalan itu. Tak apalah membayar sedikit mahal, namun sebanding dengan rasa yang diberikan. Untuk urusan berbelanja, karena kami tinggal di tengah kota, tidak sulit menemukan super market.

Untuk sayur – sayuran, ikan, daging dan bumbu dapur biasanya kami berbelanja di Kin Mart, super market milik orang Lebanon. Disini, kami menemukan sebuah botol bertuliskan “Ketjap Manis Indonesia” yang sempat membuat kami bersorak. Sayang, kecap itu tak pernah lagi disentuh semenjak dibuka. Rasanya jauh banget dari rasa kecap sebenarnya. Antara asin, asam, manis, madam nano-nano yang tak jelas rasanya itu. Entah dari mana mereka mengimpor kecap tersebut. Disini juga bisa ditemukan Indomie, hanya rasanya tak selezat Indomie di tanah air. Sedangkan untuk urusan shampo, sabun mandi, sabun cuci dan peralatan elektronik kecil, bisa di dapatkan di Hassen.

Bahasa kadang – kadang menjadi kendala. Karena banyak produk yang dijual menggunakan bahasa Perancis. Baik produk lokal maupun produk dengan merk internasional. Bisa menghabiskan waktu selama beberapa menit untuk menyimpulkan apa isi dari botol – botol itu. Shampokah, sabunkah atau jangan – jangan body lotion. Karena itu harus ekstra sabar mengartikan kata – kata dalam bahasa Perancis itu. Jangan seperti aku, yang begitu girangnya ketika menemukan sebuah botol sabun dan baru menyadari bahwa yang kuambil adalah body lotion saat hendak membayar.

Aku yang biasanya ogah untuk urusan dapur, kali ini mau tak mau harus berpartisipasi. Meskipun, hanya sebagai ‘cheerleader’. Di antara tiga ‘angels’ yang tinggal di Old Gallery Presidential Suite (aku masih terkagum-kagum dengan nama apartemen kami), Sarilah yang paling rajin meracik bumbu dapur. Kak Luna juga rajin, jika Sari tengah berhalangan.

Ada satu hari dimana Sari pulang terlambat. Sementara Kak Luna sedang bertugas ke Kinsangani. Tidak mungkin menunggu Sari pulang sementara perut sudah tak bisa berkompromi. Mulailah aku memeriksa lemari es. Mencari bahan – bahan yang bisa kuolah. Mengiris bawang, cabe, dan segala macam yang bisa kuiris, tanpa mengingat sama sekali (Sari sudah wanti – wanti soal ini sebelumnya) kedahsyatan bumbu dapur di Kongo. Bawangnya bisa bikin orang serumah – rumah menangis. Kalo cabenya, ngga usah di tanya. Bentuknya kecil – kecil tapi, pedasnya minta ampunn. Dalam bahasa lokal, disebut pili pili. Yang ngga tahan pedas, hati – hati makan ini cabe, kalo ngga mau sering – sering ke toilet.

Usai memasak, mulai terasa pengaruhnya. Tanganku puaanassssnya minta ampunnnn. Yang parahnya, panasnya bukan di telapak tangan, tapi di balik telapak tangan (kok bisa ya…) Semalaman aku ngga bisa tidur. Berbagai cara dilakukan. Dari kasi pasta gigi, air es, hingga body lotion.  Tidak ingat setelah pukul berapa aku bisa tertidur. Yang aku tahu, saat terbangun, aku masih memegang botol air yang didinginkan untuk mengompres tanganku gara – gara si cabe Kongo.

Sumber foto: lihat DI SINI

Advertisements