Kinshasa Aku Datang #1

Selamat tinggal Indonesiaku….

Itulah sepotong kalimat yang kuingat saat Thai Airways yang membawaku menuju Bangkok tinggal landas meninggalkan bandar udara Soekarno Hatta. Tiba – tiba saja perasaan jadi campur aduk. Antara senang, sedih, ragu, takut. Pokoknya macam – macam, mirip gado – gado. Belum lagi rasa nasionalisme yang tiba – tiba muncul di detik – detik terakhir sebelum keberangkatan. Setelah serangkaian medical test, vaksinasi, penantian visa yang tak kunjung datang, akhirnya di Jumat pagi, dua hari sebelum keberangkatan, tibalah tiket yang sudah dinanti – nanti itu. Di February 2010, aku berangkat ke Republik Demokratik Kongo untuk bekerja di satu organisasi. Sebutlah dia organisasi X.

Terjadi sedikit masalah saat check in di Bandara Soekarno Hatta. Bagasiku seberat 27 kg. Sebenarnya sih, di tiket tertulis kalau aku bisa membawa 40 kg. Namun, di bandara, petugas mengatakan 40 kg itu hanya berlaku untuk pesawat selanjutnya. Pesawat Thai Airways hanya mengizinkanku membawa 20 kg saja. Bagaimana mungkin  untuk menuju perjalanan mengelilingi setengah bumi aku hanya diizinkan membawa bagasi seberat 20 kg? Haloooo? Aku bukan pergi berlibur ke tempat yang dapat menyediakan apa asaja yang kubutuhkan. Setelah sedikit berhaha hihi dengan petugas check in, sedikit cuap – cuap tentang pekerjaanku, petugas penerbangan akhirnya jatuh kasihan. Mereka mengizinkanku untuk membawa barangku yang seabrek – abrek, mungkin dikarenakan pesawat tidak fully booked. Menuju Kinshasa, aku akan menjalani dua kali transit dengan rute perjalanan Jakarta – Bangkok – Nairobi – Kinshasa. Thai Airways keren. Dengan pesawat airbus yang nyaman, pramugari yang cantik, pramugara yang ganteng, makanan yang enak serta udara yang cerah membuat perjalanan menuju Bangkok menjadi super nyaman. Perjalanan selama tiga jam itu berlalu tanpa terasa.

Aku tiba di bandara Suvarnabhumi. Dibandingkan dengan Bandara Seokarno Hatta kala itu, maafkan aku Indonesia, bandara ini super keren. Dengan menggunakan konsep arsitektur modern. Seluruh gedung dipenuhi rangka baja melengkung untuk menyokong bangunan. Di bagian dalam, plafon dibiarkan terbuka, menunjukkan pipa – pipa dan sistem struktur gedung. Selain ruang tunggu yang begitu banyak, bandara juga dilengkapi dengan toko – toko untuk menjual berbagai barang mulai dari parfum, cendra mata, buku dan money changer. Juga tersedia Muslim Prayer Room, sebagai tempat istirahat bagiku sambil menghabiskan waktu 7 jam untuk penerbangan selanjutnya. Kala menunggu, aku bertemu dengan seorang ibu yang berasal dari Bangladesh. Ternyata si ibu salah satu staf Bank Dunia yang baru saja melakukan konferensi di Bangkok. Si Ibu mentraktirku makan malam. Alhamdulillah.

Pukul 11.00 malam aku kembali check in, untuk mengkonfirmasi ‘connecting ticket’ ku dari Jakarta menuju Kinshasa. Dari Bangkok menuju Nairobi aku menggunakan pesawat Kenya Airways. Tidak ada masalah sama sekali saat melakukan check in. Pukul 11.30 aku menuju ruang tunggu. Sebahagian besar penumpang adalah orang-orang Afrika, ditambah segelintir penumpang kulit putih dan penumpang – penumpang berwajah Asia. Tepat pukul 12.00 malam aku memasuki pesawat.

Saat tiba di pintu pesawat aku disambut dengan pramugari berperawakan Asia. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 12 malam waktu setempat. Pesawat ini terdiri dari tiga baris untuk kursi pesawat. Ada masing – massing dua buah kursi di bagian sebelah jendela dan  tiga buah kursi di bagian tengah. Lagu – lagu dengan irama Afrika mulai berkumandang. Padahal masih di Bangkok, namun aku serasa sudah berada di Africa. Syukurlah, kursi ku berada di sebelah jendela. Akan memudahkan untuk bisa tidur selama perjalanan. Seorang pramugara berwajah agak tua, mungkin usianya sudah empat puluhan, membantuku menyimpan barang di kabin pesawat.

Di ujung lorong, ada tiga orang yang saling berteriak, entah dengan menggunakan bahasa apa dan entah apa pula yang diributkan. Padahal jarak mereka tak lebih dari setengah meter. Pramugari / a kesulitan ketika mengatur penumpang. Ada yang tidak duduk di kursinya masing – masing, ada yang memonopoli tempat duduk, memborong tiga kursi lainnya untuk dirinya sendiri padahal dia hanya membayar satu kursi, hingga sulitnya menyuruh penumpang untuk duduk dan memasang seat belt saat pesawat akan lepas landas. Keadaan ini mengingatkanku kala berpergian ke salah satu pulau terpencil di Indonesia yang terletak di Samudera Hindia. Sama hebohnya.

Pukul 12.40 pesawat lepas landas. Saat lepas landas, lampu di bagian dalam pesawat otomatis mati. Beberapa penumpang berteriak untuk menyemangati pak pilot. Pesawat meninggalkan Bangkok. Pramugari/a mulai membagikan selimut, headset serta makanan. Aku tak terlalu bernafsu untuk makan. Jam ini lebih cocok untuk tidur daripada makan. Cuaca agak buruk. Lampu yang menerangi tulisan ‘Fasten your Seat Belt’ terus menyala. Pramugari/a sibuk mengingatkan penumpang untuk mengencangkan seat bealt. Dan sibuk membujuk penumpang yang tak mau duduk. Entah bagaimana tak ada sedikitpun kecemasan di wajah mereka, tertawa terkikik – kikik sambil berdiri di sebelah kursi – kursi teman mereka disaat pesawat tengah terguncang – guncang dikarenakan hujan dan turbulensi. Mungkin orang-orang ini sudah sering terbang dengan penerbangan panjang. Tidak seperti aku. Ini adalah penerbangan panjang pertamaku.

Pukul 6.00 pagi waktu Indonesia aku terbangun. Sayup-sayup kudengar salah satu penumpang bergumam, “We’re flying above Kilimanjaro”. Mendengar kata “Kilimanjaro” membuatku sadar bahwa aku benar – benar pergi ke Afrika. Pramugari / a kembali menyajikan makanan untuk sarapan. Pukul 8.00 pagi sudah, namun di luar masih gelap. Entah sudah di dunia bagian mana aku saat ini. Saat ini, di Indonesia tentunya teman – teman dan saudara – saudaraku sudah duduk di mejanya masing – masing sibuk dengan komputer dan pekerjaan yang sudah menanti. Tepat pukul 6 pagi waktu Kenya bersamaan dengan pukul 10 pagi waktu Indonesia, pesawat mendarat dengan mulus di Nairobi. Nairobi masih gelap. Udara dingin menyergap saat melangkah keluar dari pesawat. Di bandara, beberapa orang sudah mulai berkeliaran berasal dari penerbangan – penerbangan sebelumnya untuk menantikan penerbangan selanjutnya. Masih ada dua setengah jam lagi sebelum terbang menuju Kinshasa.

Sudah ada beberapa orang di ruang tunggu. Seorang lelaki kulit putih tengah duduk di sudut, sibuk dengan laptop di pangkuannya. Seorang wanita bertampang Asia duduk di sebelahku. Beberapa saat kemudian, serombongan lelaki dan perempuan kulit hitam memasuki ruang tunggu. Suasana yang tadinya hening menjadi ribut tak terkira. Dari seragam yang mereka kenakan, kelihatannya mereka adalah atlit tim bola tangan DR Congo. Mereka berbicara dengan saling berteriak. Seperti orang Batak di Indonesia. Aku paham benar, karena aku sendiri adalah orang dari salah satu suku Batak. Ketika pengeras suara memberitahukan agar para penumpang pesawat menuju Kinshasa untuk bersiap – siap menaiki pesawat, para atlit bersorak gembira, seperti baru dapat undian saja.

Keadaan di atas pesawat agak heboh. Semua orang berteriak satu sama lain. Sepasang suami istri tengah berdebat dengan pramugari mempertanyakan mengapa bagasi di kabin yang terletak tepat di atas kursi mereka telah terisi dengan barang penumpang lain. Sang pramugari berusaha menenangkan dan membawa barang mereka ke bagasi lain yang masih kosong. Namun sang istri ngotot ingin barang – barang itu tak jauh – jauh dari mereka. Lelaki kulit putih yang kulihat di ruang tunggu duduk di sampingku. Akhirnya setelah hampir satu jam mengatur para penumpang beserta barang bawaannya, pesawat pun lepas landas.

Setelah hampir tiga jam penerbangan, akhirnya pilot mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat. Lagi – lagi tugas berat bagi para pramugari untuk menyuruh penumpang untuk duduk dan mengenakan seat belt. Bahkan saat pesawat sudah hampir landing, dimana aku bisa melihat mobil – mobil di jalanan, seorang penumpang dan pramugrari saling teriak dikarenakan si penumpang ngotot ingin menggunakan kamar kecil. Saat roda pesawat menyentuh daratan, seorang  penumpang berteriak keras sekali, hampir membuat jantungku copot, diikuti dengan tepukan dan teriakan keras sekali dari para atlit.

Hhh.. Akhirnya, aku berhasil masik ke gedung terminal kedatangan. Sesuai instruksi dari Sari, seorang teman yang telah tiba lebih dulu di Kinshasa, aku langsung memilih salah satu jalur seperti yang disarankan Sari. Saat mengantri, seorang petugas meminta kartu vaksin milikku dan mengecek vaksinasi yang telah kulakukan. Syukurnya, aku datang dengan persiapan penuh. Semua vaksinasi telah kulakukan. Dari Tetanus, Hepatitis AB, Thypoid, Polio, Meningitis hingga Yellow Fever yang menjadi syarat mutlak untuk masuk Kinshasa. Tiba giliranku untuk mengecap passport. Dengan tampang super masam, si petugas membolak balik passportku, mengecapnya, dan dengan dengusan tak jelas mengembalikannya kepadaku.

Keluar dari imigrasi. Sekarang saatnya mencari orang yang menjemputku. Dari kejauhan aku melihat seorang wanita, berdiri seperti manekin memegang sebuah papan bertuliskan ‘Organisasi X’. Tak salah memang. Dia petugas yang bertugas untuk menjemput para staff baru. Segera aku mendatangi wanita tersebut, menunjukkan visa letter dan passportku. Si wanita mengambil passport milikku untuk diserahkan ke bagian travel unit  yang bisa diambil beberapa jam kemudian.

Bertemu orang dari organisasi X bukan berarti perjuangan selesai. Saatnya mengambil bagasi. Hampir satu jam aku menunggu, namun koperku dengan berat 28 kg itu tak kunjung tiba. Aku pun mulai harap – harap cemas. Bisa saja koper itu masih tertinggal di Nairobi, atau di Bangkok. Kuharap aku tak perlu menggunakan pakaian cadangan yang ada dalam hand carry. Seorang teman, sebelum keberangkatanku memastikan aku membawa pakaian extra yang tidak disimpan di bagasi untuk menghindari masalah ketinggalan bagasi.

Dengan peluh becucuran, aku menunggu dengan jantung bedebar – debar. Bukan hanya karena rasa cemas koperku tidak muncul, akan tetapi dengan keadaan bandara dan orang – orang yang ada di dalamnya. Bandara internasional N’djili tak jauh berbeda fasilitasnya dengan bandara Binaka di Nias. Padahal ini bandara international. Orang – orang masih saling menjerit. Beberapa malah memperebutkan satu buah koper. Setelah satu jam berlalu, akhirnya koper seberat 28 kg itu tiba dengan sukses. Seorang porter membantuku membawa barang. Sang porter direkomendasikan oleh si wanita yang menjemputku.

Memasuki Kinshasa rasanya seperti memasuki dunia lain. Meskipun sudah mendapatkan gambaran secara ringkas dari organisasi X, cerita seru dari John, seorang kolega yang pernah menghabiskan waktu selama dua tahun di Kongo, serta kisah menarik dari Sari, aku masih shock saat melihat keadaan yang sesungguhnya. Jalanan penuh debu dan tidak rata. Orang berjalan lalu lalang, ramai sekali dengan pakaian beraneka warna. Memasuki pusat kota Kinshasa, lebih kelihatan nyata kalau kota ini tak maju. Rasanya, seperti mundur tiga puluh tahun yang lalu. Sebagian besar jalanan utama penuh debu, menghalangi pandangan. Beberapa gedung pencakar langit terlihat usang, rusak dimakan waktu. Berada disini, seperti berada di Jakarta, tetapi Jakarta pada saat empat puluh tahun yang lalu. Situasinya mirip dengan apa yang ditunjukkan di film – film Indonesia tempo dulu, yang dimainkan oleh Ateng, Benyamin S, dan para artis lawas.

Alhamdulillah, perjalananku sama sekali tidak terkendala. Akhirnya aku tiba di kantor. Sari memperkenalkanku dengan  staf lain yang kebetulan berasal dari Indonesia. Ada Kak Arny dan Kak Luna. Ternyata, aku dan Kak Luna pernah bertemu sebelumnya saat misi recovery Aceh – Nias di pulau Nias. Yah, dunia memang hanya selebar daun kelor. Selain kami para civilian, banyak juga tentara asal Indonesia di Kinshasa untuk misi perdamaian. Senangnya, bisa ketemu orang – orang sebangsa. Rasanya, segala beban, resah gelisah berkurang setengahnya begitu mengetahui ada saudara – saudara setanah air.

Usai pembuatan ID Card, aku, Sari dan Kak Luna pulang ke apartmen kami. Sebelum datang, aku dan Sari memang sudah membuat janji kalau kami akan tinggal serumah. Apartmen kami berada di lantai 22. Naik ke atas, harus menggunakan lift satu – satunya dengan ukuran 1 x 2 m. Benar – benar bukan ukuran standar, pikirku. Selain lift dengan ukuran tak standar, sebagian besar plafon juga telah hancur, menunjukkan berbagai instalasi yang ada di dalamnya. Mulai dari pipa untuk air kotor, air bersih, hingga instalasi listrik. Tidak jarang, listrik mati secara tiba – tiba. Jika sudah begini, sebaiknya berdoa semoga listrik segera menyala. Atau siap – siap turun naik tangga setinggi 22 lantai. Bukan main tempat ini.

Begitupun, saat memasuki apartmen, rasa khawatirku sedikit berkurang. Meskipun dari luar apartment ini terlihat ‘hancur’, tidak demikian dengan bagian dalamnya. Apartmen ini cukup nyaman dan letaknya tepat di tengah kota Kinshasa (kalo di Jakarta ibaratnya aku tinggal di kawasan Bunderan HI) dengan view menghadap sungai Kongo. Jika cuaca sedang bagus dan tak berawan, aku bisa menyaksikan indahnya sunset dan mengabadikannya bersama si Canoy, kameraku tersayang. Satu – satunya cara yang bisa membuatku sedikit berdamai dengan segala kekurangan Kinshasa.

Kinshasa di Februari 2010. Ketika aku tiba untuk pertama kalinya.

Catatan: Saat ini keadaan Kinshasa sudah jauh lebih maju. Jalanan mulai tertata rapi, dilengkapi dengan lampu pengatur lalu lintas di beberapa titik. Bahkan, ketika aku meninggalkan Kinshasa tiga tahun setelah kedatanganku, Bandar Udara Ndjili sudah jauh lebih baik.